loading...

Kunjungan Lapangan Kajian Relokasi Desa Simonet untuk Mendukung Kesejahteraan Warga Terdampak Relokasi

Pada Rabu, 31 Juli 2024, Bapperida Kabupaten Pekalongan bersama tim mahasiswa magang dari UIN, UPGRIS, dan UNIKAL melaksanakan kunjungan lapangan ke lokasi relokasi dan wilayah terdampak di Desa Simonet. Kegiatan ini bertujuan untuk melihat secara langsung kondisi warga terdampak relokasi akibat abrasi dan banjir rob yang melanda wilayah pesisir Kabupaten Pekalongan. Kunjungan lapangan ini menjadi bagian penting dari kajian yang sedang disusun, guna memastikan bahwa kebijakan relokasi yang direncanakan pemerintah mampu menciptakan lingkungan yang mendukung kehidupan sosial dan ekonomi bagi masyarakat terdampak.


Kondisi Dusun Simonet Sekarang


Rangkaian Lokasi dan Temuan Penting dalam Kunjungan Lapangan

Kunjungan ini mencakup beberapa lokasi, yaitu Desa Sijambe, bantaran Sungai Mrican, dan lokasi proyek relokasi di Desa Tratebang, dengan waktu pelaksanaan dari pukul 09.00 hingga 15.00 WIB.

  1. Desa Sijambe  

Tim kunjungan memulai kegiatan di Desa Sijambe dengan melakukan pertemuan bersama perangkat desa dan beberapa warga terdampak. Dalam kesempatan ini, tim Bapperida bersama perangkat desa membahas berbagai kendala sosial dan ekonomi yang dialami warga terkait relokasi. Beberapa warga yang ditemui, seperti Ibu Robiyah dan Ibu Uriah, berbagi kisah tentang kondisi mereka setelah terdampak banjir rob. Ibu Robiyah, seorang ibu lanjut usia yang dulunya berprofesi sebagai pembatik, menyatakan rasa terbantunya dengan adanya relokasi ini, meski saat ini ia sudah tidak bekerja karena kondisi usia. Warga berharap relokasi ini disertai dengan pelatihan keterampilan dan bantuan modal usaha agar mereka bisa mandiri di lingkungan baru.


Selain itu, beberapa warga lain yang bekerja di sektor rumahan seperti menjahit, berdagang, dan membatik menyatakan harapan serupa. Dukungan dari pemerintah dalam bentuk pelatihan keterampilan dan bantuan finansial dinilai penting untuk membantu warga beradaptasi dengan perubahan ekonomi yang mereka hadapi di lokasi relokasi.

  1. Bantaran Sungai Mrican

Kunjungan berlanjut ke bantaran Sungai Mrican, sebuah lokasi yang dinilai sangat memprihatinkan karena kondisi lingkungan yang penuh dengan eceng gondok dan sampah, serta mengalami pendangkalan. Hal ini menyebabkan sungai menjadi sangat rawan banjir, terutama saat volume air meningkat. Pendangkalan sungai dan penumpukan sampah menjadi faktor utama yang memperburuk situasi bagi warga di sekitarnya. Tim juga melakukan pengamatan dari kejauhan terhadap kondisi Dusun Simonet yang kini 80% terendam air laut, terutama pada siang dan sore hari ketika air pasang. Situasi ini menunjukkan bahwa relokasi menjadi kebutuhan mendesak bagi warga Dusun Simonet yang sudah kehilangan akses jalan dan lahan penghidupan mereka akibat kenaikan air laut.

  1. Lokasi Relokasi di Desa Tratebang  









Di Desa Tratebang, tim kunjungan mengunjungi lokasi proyek relokasi yang sedang dalam tahap pembangunan. Proyek ini bertujuan untuk menyediakan hunian yang layak bagi warga Dusun Simonet, serta beberapa keluarga dari Desa Sijambe dan Wonokerto Kulon yang juga terdampak. Bu Putri, perwakilan dari Dinas Perkim LH Kabupaten Pekalongan, memberikan penjelasan mengenai pembangunan hunian baru dengan menggunakan teknologi Rumah Sistem Panel Instan (RUSPIN) yang tahan gempa. Setiap hunian juga akan dilengkapi dengan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal untuk pengolahan limbah rumah tangga yang ramah lingkungan.


Proyek relokasi ini akan mencakup pembangunan sebanyak 100 unit rumah yang diperuntukkan bagi 66 kepala keluarga dari Dusun Simonet, serta sejumlah keluarga dari desa-desa lain yang terdampak. Selain fasilitas hunian yang kokoh, warga berharap agar lokasi ini dilengkapi dengan akses layanan kesehatan, pendidikan, dan pasar agar kebutuhan mereka dapat terpenuhi di lingkungan yang baru.


Pentingnya Kunjungan Lapangan ini dan Harapan Warga

Kunjungan lapangan ini memainkan peran penting dalam memahami kondisi aktual serta harapan warga yang terdampak oleh bencana rob dan abrasi pesisir. Proses relokasi bukan sekadar memindahkan tempat tinggal, namun juga harus memastikan bahwa kehidupan ekonomi dan sosial warga dapat terus berkembang dengan baik di lingkungan yang baru. Bagi banyak warga, perubahan ini berarti kehilangan sumber penghasilan yang mereka miliki di Dusun Simonet, seperti tambak udang dan kepiting, serta ladang melati yang menjadi mata pencaharian utama sebelum banjir rob melanda. Oleh karena itu, pelatihan keterampilan dan bantuan modal menjadi dua hal yang sangat dinantikan oleh warga sebagai modal untuk memulai kehidupan baru yang lebih mandiri.


Kesimpulan

Melalui kunjungan lapangan ini, beberapa rekomendasi yang diusulkan termasuk:

  • Pelatihan Kerja dan Bantuan Modal: Untuk memastikan bahwa warga terdampak dapat beradaptasi dan mengembangkan keterampilan baru di tempat relokasi, sehingga ekonomi mereka tetap stabil.

  • Normalisasi Sungai Mrican: Penanganan bantaran Sungai Mrican melalui program normalisasi dinilai sangat penting untuk mengurangi risiko banjir dan memperbaiki kualitas lingkungan bagi warga di sekitar sungai.

  • Penyediaan Infrastruktur Dasar: Fasilitas layanan publik seperti kesehatan, pendidikan, dan pasar di lokasi relokasi diharapkan dapat diakses dengan mudah untuk meningkatkan kualitas hidup warga.


Rencana Tindak Lanjut dan Harapan

Hasil temuan dari kunjungan lapangan ini akan menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan yang tepat sasaran oleh Pemerintah Kabupaten Pekalongan. Dengan adanya kunjungan ini, Bapperida berharap dapat merancang program relokasi yang tidak hanya berfokus pada pemindahan fisik, tetapi juga pada keberlanjutan hidup dan kesejahteraan warga terdampak dalam jangka panjang. Upaya kolaboratif antara Bapperida, Dinas Perkim LH, dan warga terdampak diharapkan mampu menciptakan solusi berkelanjutan yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat Kabupaten Pekalongan.